Riset: Suhu panas “membakar” pendapatan UMKM, negara harus hadir beri bantuan
Usaha yang berada di wilayah yang secara historis sudah panas, khususnya, mengalami kerugian produktivitas yang jauh lebih besar.
Perubahan iklim yang membuat suhu semakin panas tidak hanya membuat cuaca semakin gerah, tapi juga berdampak langsung pada usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) seperti warung makan pinggir jalan hingga usaha produksi rumahan.
Riset kami yang menggabungkan data puluhan tahun dari Indonesia Family Life Survey (IFLS) dan catatan suhu historis, menemukan pola bahwa setiap kenaikan suhu rata-rata tahunan 1ºC, terjadi penurunan pendapatan usaha sebesar 14% dan penurunan pendapatan per pekerja sebesar 21%.
Sebagai ilustrasi, tahun 2024 menjadi salah satu tahun terpanas di Indonesia. Di DKI Jakarta, suhu tahunan naik sekitar 1ºC dari kondisi normalnya. Nah, pada UMKM dengan omzet normal tahunan sebesar Rp60 juta, cuaca yang lebih panas dari biasanya ini diperkirakan menurunkan pendapatannya hingga menjadi kurang dari Rp52 juta. Mengapa bisa begitu?
Berbeda dengan perusahaan besar, usaha mikro yang umumnya informal dan berbasis rumah tangga, jauh lebih rentan karena tidak memiliki sumber daya keuangan dan infrastruktur (seperti pendingin ruangan/AC) untuk menghadapi panas ekstrem. Akibatnya, kenaikan suhu secara langsung menekan produktivitas sekaligus pendapatan mereka.